Gaya Airlangga Dan Akbar Tandjung Redam Topan Di Golkar

Gaya Airlangga dan Akbar Tandjung Redam Badai di GolkarKetua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (Grandyos Zafna/detikcom)

Jakarta -Dalam politik, sukses dan gagal itu relatif. Tergantung siapa yang menilai dan apa kepentingannya. Begitulah yang dihadapi Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto. Dia memimpin partai berlambang pohon beringin semenjak 13 Desember 2017. Mewarisi gambaran dan kondisi partai yang nyaris luluh lantak alasannya ialah friksi dan korupsi para petingginya.

Ya, kala itu ada dualisme kepemimpinan di Golkar antara hasil Munas Bali dan Ancol. Juga skandal 'Papa Minta Saham' dan korupsi e-KTP oleh Setya Novanto (ketua umum) dan korupsi PLTU-1 Riau oleh Idrus Marham (Sekjen). Belum lagi sejumlah korupsi yang melibatkan anggota dewan perwakilan rakyat dan pengurus Golkar di daerah.

Wajar jika dengan kondisi ibarat itu beberapa forum survei memberikan elektoral Partai Golkar cuma 6-7 persen. Turbulensi badainya ibarat dengan kondisi Golkar di masa Akbar Tandjung pada 1999-2004. Kala itu, Golkar menghadapi tekanan dan bahaya pembubaran. Sebagai penopang rezim Orde Baru, Golkar dicitrakan sebagai partai yang membawa republik ini terpuruk. Belum lagi kasus skandal Bulog yang membelit Akbar, meski kemudian Mahkamah Agung membebaskannya dari hukuman.


Akbar, yang merangkap sebagai Ketua DPR, biasa memanfaatkan waktu di simpulan pekan untuk berkeliling daerah. Menyapa dan menjaga soliditas para pengurus Golkar di daerah. Dia juga menggulirkan Konvensi Partai Golkar. Mengundang para tokoh yang berminat menjadi calon presiden untuk memperjuangkannya lewat Golkar.

Strategi ini dipuji banyak pengamat dan mengundang banyak peminat. Media massa selama berbulan-bulan seolah tiada henti memberitakannya. Liputan ini menjadi promosi gratis bagi Golkar. Meski Akbar gagal menjadi calon presiden, Golkar jadi pemenang Pemilu dengan raihan 128 kursi.

Bagaimana dengan Airlangga Hartarto?

Sosok dan figur Airlanga dinilai sebagai antitesis dari Setya Novanto yang korup. Rekam jejaknya bagus, tidak punya beban moral, dan relatif berintegritas. Dia masuk dewan perwakilan rakyat semenjak 2004 sampai ditarik ke kabinet sebagai Menteri Perindustrian pada 27 Juli 2016, tidak punya isu negatif, dan patuh dalam memberikan laporan harta kekayaan ke KPK.

Dari sisi pendidikan, Airlangga juga cukup cemerlang. Selepas dari Fakultas Teknik UGM pada 1987, beliau melanjutkan studi ke AMP Wharton School, University of Pennsylvania, Philadelphia, AS, pada 1993. Gelar master bidang bisnis dan administrasi masing-masing diraih dari Monash University, Australia, 1996 dan University of Melbourne, Australia, 1997.


Meski dianggap tak punya akar berpengaruh di Golkar ibarat Akbar Tandjung, Airlangga berani tampil beda. Dia menyodorkan penjenamaan (branding) 'Golkar Bersih, Golkar Bangkit'. Hasilnya? Diakui atau tidak, dialah sosok terbaik di Golkar ketika ini.

Tutur katanya lembut, tidak meledak-ledak. Pembawaannya santun. Dia tak suka terlalu banyak berkomentar. Komentar diberikan seperlunya saja. Mungkin alasannya ialah itu media sesekali saja merubungnya. Tapi style ini sedikit-banyak menguntungkan. Media tak lagi terus-menerus menyorot dan mengkritik banyak sekali turbulensi yang terjadi. Suami Yanti K Isandiari itu ibarat sengaja melokalisasi isu. Dia seolah membiarkan media cuma menyorot Prabowo dan Gerindra dengan gegap gempita sebagai sentra perhatian. Sedangkan beliau asyik melaksanakan konsolidasi internal.

Hasilnya? Meski berada di posisi ketiga dalam perolehan bunyi pemilu legislatif, Golkar justru mengungguli Gerindra dalam perolehan dingklik di DPR. Golkar meraih 85 kursi, sedangkan Gerindra 78.


"Pemilu legislatif itu perebutan jumlah dingklik di parlemen, bukan jumlah suara. Kalau ada voting kan yang diadu berapa jumlah anggota, bukan jumlah bunyi rakyat yang memilih," beber Airlangga.

Namun sebagian elite Golkar tak puas atas capaian tersebut. Airlangga dituding gagal mencapai sasaran 91 dingklik DPR. Juga dianggap kurang berkomunikasi dengan pengurus kawasan dan pelit soal urusan duit. Karena itu, kepemimpinannya harus diakhiri dalam Munas pada Desember nanti. Sebagai penantang, muncul nama Bambang Soesatyo.

Seorang kolega Airlangga di Golkar menepis evaluasi semacam itu. Di luar capaian Pemilu Legislatif, Airlangga sukses menorehkan jejak politik yang ciamik. Dia menerima toleransi untuk merangkap jabatan sebagai menteri. Di Senayan, bersama para elite koalisi Jokowi, beliau mencapai komitmen menempatkan kader PDIP sebagai Wakil Ketua dewan perwakilan rakyat dan Ketua Umum PKB sebagai Wakil Ketua MPR.


"Itu yang harus dicamkan Cak Imin, jangan lupa ada tugas Airlangga dan Golkar beliau sanggup begitu," ujar seorang pengurus teras Golkar. Dia melontarkan pernyataan keras ketika Muhaimin kepada pers menyatakan ambisinya merebut dingklik Ketua MPR.

Ketika dalam beberapa hari ini Bambang Soesatyo gencar bermanuver untuk merebut dingklik Ketua Umum Golkar dari Airlangga, beliau pun berujar bahwa ada andil Airlangga di balik duduknya Bamsoet di dingklik Ketua DPR. "Jangan lupakan itu, nanti kualat," ungkapnya berseloroh.


Simak Juga Blak-blakan Ketum Golkar, Kinerja dan Manuver Airlangga:

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "Golkar di Pilkada 2020 Prioritas Usung Kader Sendiri"
[Gambas:Video 20detik]


Sumber detik.com

Belum ada Komentar untuk "Gaya Airlangga Dan Akbar Tandjung Redam Topan Di Golkar"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel