Pemprov Sulsel Antisipasi Laju Inflasi Jelang Simpulan Tahun

Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah/Foto: Noval Antony/detikcomGubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah/Foto: Noval Antony/detikcom

Makassar - Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah menyebut hasil-hasil pertanian dan perikanan menjadi salah satu pemicu terbesar inflasi. Dia meminta kepala kawasan dan pemangku kepentingan lainnya di Sulsel untuk mendorong kesejahteraan petani dan nelayan.

"Inti daripada rapat TPID ini bagaimana kita mendorong kesejahteraan petani, yang kedua bagaimana kita mendorong kesejahteraan nelayan. Hasil-hasil pertanian dan perikanan ini salah satu pemicu terbesar inflasi kita," kata Nurdin ketika memimpin pertemuan High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Kantor Gubernur Sulsel, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Jumat (15/11/2019).

Dalam presentasinya, Nurdin menyebutkan, pada triwulan III-2019 ekonomi Sulawesi Selatan tercatat tumbuh 7,21% (yoy) dan menjadi pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia. Dia memperkirakan Inflasi Sulawesi Selatan pada tahun 2019 berada pada rentang 3,5% +/-1% (tiga koma lima persen, plus minus satu persen).

"Inflasi Sulsel diperkirakan berada di range 3,5%, plus minus 1%. Namun tetap perlu diantisipasi peningkatan harga menjelang selesai tahun," jelasnya.


Untuk itu Nurdin menekankan biar peningkatan harga menjelang selesai tahun perlu diantisipasi dan penguatan taktik tim pengendali inflasi kawasan dalam jangka panjang. Ada 17 Komoditas yang paling sering menjadikan inflasi, dan 4 komoditas utama yang masuk kategori prioritas.

"Bahwa pengendalian inflasi perlu dilakukan secara struktural melalui tiga taktik utama; pertama dengan produksi melalui penguatan produksi dan distribusi. Kedua melalui teknologi dengan penguatan riset dan aplikasi teknologi sempurna guna. Ketiga, melalui pembiayaan dengan penguatan skim pembiayaan produksi pertanian," paparnya.

Ketimpangan harga

Nurdin menyebut yang menjadi duduk masalah besar selama ini adalah ketimpangan harga antara petani dan pedagang. Selama ini petani banting tulang untuk menghasilkan produk pertanian yang baik. Namun yang menikmati harganya adalah para pedagang.

"Nah ini nggak adil. Makanya saya minta supaya betul-betul petani kita ini menikmati kesejahteraan, ini harus dipelihara, alasannya jikalau nggak ada yang mau jadi petani ini kan repot kita semua, padahal keunggulan kita itu ada di basic kita di pertanian, perikanan," ujarnya.

Ke depan para petani dibutuhkan sanggup melaksanakan perencanaan yang terukur dari mulai ketika akan menanam.

"Analisa perjuangan taninya jalan, 'saya menanam sekian hektar saya akan menghasilkan jagung sekian dengan nilai sekian, modalnya sekian dan sebagainya'," paparnya.

Menurut Nurdin ketika ini para petani hanya mencicipi analisa pertanian dari info yang ada. Disebutkan, pada ketika demam isu tanam harga produk pertanian yang ditanam para petani naik.

"Nah kita ingin mereka itu pada ketika ia menanam ia sudah sanggup merencanakan saya mau sekolahin anak, mau naik umrah, perbaiki rumah dan sebagainya, bukan bayar utang," paparnya.


"Inovasi teknologi harus dihadirkan, modal sudah harus siap, pemerintah hadir. Perbaiki benihnya, hadirkan pupuk pada ketika dibutuhkan, pascapanennya diperbaiki, jaringan pasar diperbaiki. Makanya kerja sama itu penting," lanjutnya.

Dia menambahkan selama ini masih banyak petani yang hanya menunggu produk pertaniannya tiba dibeli oleh pengepul.

"Belum lagi pascapanen, pada ketika ia habis manen simpan di jalan hujan tiba kehujanan, alhasil prodaknya jadi menurun kualitasnya," imbuhnya.

Simak Video "Massa Pro-Nurdin Abdullah Demo di DPRD Sulsel, Tolak Wacana Pemakzulan"
[Gambas:Video 20detik]

Sumber detik.com

Belum ada Komentar untuk "Pemprov Sulsel Antisipasi Laju Inflasi Jelang Simpulan Tahun"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel