Saatnya Ekonomi Indonesia Berlari Kencang

Saatnya Ekonomi Indonesia Berlari KencangIlustrasi: Andhika Akbarayansyah/detikcom

Jakarta -
Penghitungan bunyi Pilpres 2019 pada portal KPU sudah mencapai kisaran 70%, di mana secara historical maupun statistik, kalau tidak ada hal luar biasa yang terjadi, sudah sanggup dipastikan siapa pemenang pemilu tahun ini. Dengan demikian, sudah seharusnya pasangan yang diperkirakan menang menyiapkan langkah-langkah besar dan strategis untuk menumbuhkan ekonomi lebih tinggi lagi supaya sanggup segera dihukum pada waktu dilantik. Again, it's the economy!

Pertumbuhan yang Datar

Badan Pusat Statistik (BPS) gres saja merilis pertumbuhan ekonomi Kuartal I 2019 di angka 5.07%, yang tentu saja berada di bawah prediksi pemerintah, bank sentral, maupun pasar. Hal ini tentu saja kontras dengan ekonomi Amerika Serikat yang tumbuh lebih tinggi daripada konsensus pasar. Hingar-bingar (kampanye) pemilu di dalam negeri sepertinya tidak berdampak cukup banyak untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan pertama 2019. Ekspor dan impor yang justru anjlok memperlihatkan bahwa mendasar ekonomi kita belum tertata dengan cukup baik.

Jika tren pertumbuhan ekonomi dalam negeri di kisaran hanya 5% yang merupakan the new normal terus berlanjut, mimpi untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia sepertinya hanya menjadi kenangan. Kita menyadari bersama bahwa pertumbuhan yang biasa-biasa saja tidak sanggup membawa Indonesia melangkah lebih cepat. Diperlukan taktik dan sanksi yang jauh lebih baik di masa yang akan datang.

Lompatan Besar

Pemerintah, pelaku bisnis, maupun akademisi perlu duduk bersama untuk merumuskan taktik ekonomi di masa depan. Reformasi menyeluruh pada ekonomi Indonesia sangat diperlukan. Sangat penting untuk melaksanakan big leap forward untuk mengubah teladan ekonomi Indonesia yang berjalan belakangan ini, sehingga pertumbuhan ekonomi yang optimal sanggup dicapai.

Wacana ibu kota gres yang dihembuskan akhir-akhir ini tentu saja tidak cukup untuk melaksanakan lompatan ekonomi. Pemerintah perlu melaksanakan big push terhadap pasar. Hal yang mendesak untuk dilakukan yakni penguatan mendasar ekonomi kita. Sumber pertumbuhan yang konstan dan membosankan mengindikasikan bahwa kita berjalan lambat. Ekspor yang juga tidak bertumbuh dengan pesat menandakan bahwa kita kurang memanfaatkan potensi dalam negeri.

Berikutnya, pertumbuhan konsumsi yang landai kalau dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk membawa pesan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat berkembang dengan biasa-biasa saja. Dengan demikian, hal yang mendesak dilakukan yakni mengubah denah pertumbuhan dalam negeri. Pemerintah perlu menguatkan keunggulan komparatif Indonesia. Selain itu, perlu dilakukan transformasi besar-besaran di sektor barang dan jasa.

Pemanfaatan nilai tambah terhadap barang dan jasa terhadap ekonomi perlu lebih dioptimalkan lagi. Kemudian, infrastruktur yang dibangun dengan cukup masif belakangan ini juga wajib dibarengi dengan menumbuhkan industri-industri baru, sehingga sanggup menjadikan multiplier effect.

Bukan Stabilitas

Jika menyelidiki pertumbuhan negara-negara yang ekonominya bertumbuh cukup tinggi di emerging market, salah satu kuncinya yakni investasi. Foreign Direct Investment (FDI) yakni hal yang penting dalam investasi. Saat ini FDI Indonesia masih sangat kecil, di kisaran 2% dari PDB. Di masa yang akan datang, pemerintah perlu membuka FDI dengan besar-besaran. Ease of doing business perlu diperbaiki dan ditingkatkan supaya lebih baik dibandingkan dengan negara emerging market lainnya, dan insentif fiskal wajib diberikan kepada investasi baru, sehingga Indonesia sanggup menjadi tujuan utama investasi.

Selanjutnya, kebijakan suku bunga rendah yakni sangat penting untuk menumbuhkan investasi. Suku bunga yang cukup tinggi belakangan ini perlu diturunkan berbarengan dengan penguatan ekonomi domestik. Perlu disadari bersama bahwa suku bunga belakangan ini menjadikan kekurangyakinan di pasar. Oleh alasannya yakni itu, kebijakan yang akhir-akhir ini lebih berfokus kepada stabilitas ekonomi, wajib diubah dengan berfokus kepada pertumbuhan.

Kebijakan impor akhir-akhir ini yang cukup tinggi yang sedikit banyak berdampak terhadap inflasi yang rendah juga perlu diubah. Dengan adanya defisit current account tentu saja mengurangi potensi pertumbuhan ekonomi kita. Pemerintah perlu mengurangi main aman dengan menghilangkan hal-hal yang menghambat potensi bangsa kita.

Pemerintah juga perlu mendorong dan memfasilitasi iklim perjuangan yang lebih kondusif. Diperlukan sinergi yang lebih baik dan lebih faktual antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), swasta, dan koperasi. Kemudian, BUMN yang seharusnya menjadi salah satu motor ekonomi perlu direstrukturisasi. Skandal Garuda Indonesia yang diduga memanipulasi laporan keuangan memperlihatkan buruknya pengelolaan BUMN. Bisa jadi, hal tersebut juga terjadi di korporasi negara lainnya kalau dilakukan audit secara menyeluruh.

Selain itu, ditetapkannya Direktur Utama PLN sebagai tersangka oleh KPK juga menjadi bukti kurang berintegritasnya pengelolaan BUMN kita. Restrukturisasi BUMN sanggup menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dalam memperlihatkan manfaat eksklusif kepada negara berupa pajak, dividen, dan PNBP yang lebih optimal di masa depan, serta terbukanya lapangan kerja yang lebih besar di aneka macam sektor.

Bergerak Dinamis

Menilik hasil penghitungan sementara KPU, sudah semestinya petahana akan melanjutkan ke periode berikutnya. Kita menyadari bersama bahwa pasangan ini yakni win-win solution terhadap informasi agama yang belakangan berkembang. Pasangan ini boleh jadi tidak cukup maksimal untuk menjadi kekuatan besar bagi bangsa kita untuk lima tahun ke depan.

Perlu dipikirkan adanya shadow leader ataupun Menteri Pertama yang sanggup menguatkan pasangan terpilih untuk membawa Indonesia bergerak cepat. Sosok ini kiranya bebas dari kontroversi dan sangat lincah bergerak sehingga sanggup menyelaraskan segala proses pemerintahan supaya sanggup berjalan lebih baik dan lebih cepat. Dalam kondisi perlambatan ekonomi dunia, dibutuhkan kematangan berpikir dan kecepatan serta ketepatan sanksi supaya Indonesia tidak terjebak dalam middle income trap, dan supaya sanggup membawa Indonesia ke next level.

Maju Bersama

Hal yang harus segera dilakukan berbarengan dengan penguatan ekonomi yakni rekonsiliasi. Dari kedua belah pihak perlu menyudahi segala kegaduhan politik. Dari sisi penantang perlu meyakinkan pendukungnya untuk menyudahi segala kontroversi. Dari sisi petahana pun perlu menyudahi ketidakadilan aturan yang selama ini dikeluhkan oleh pihak yang lain.

Pihak lawan perlu dirangkul dalam pemerintahan yang akan datang. Ide dan anutan yang baik dari pihak yang kalah perlu diakomodasi dalam bentuk kebijakan yang nyata. Diperlukan pinjaman dari semua komponen bangsa untuk memajukan Indonesia. Stabilitas politik tentu saja sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Proses politik yang panjang selama ini sudah sepantasnya membawa efek faktual bagi masyarakat.

Jusup Silitonga, MBA pemerhati ekonomi


Tulisan ini yakni kiriman dari pembaca detik, isi dari goresan pena di luar tanggung jawab redaksi. Ingin menciptakan goresan pena kau sendiri? Klik di sini sekarang!

Sumber detik.com

Belum ada Komentar untuk "Saatnya Ekonomi Indonesia Berlari Kencang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel