Pangan Sumbang Deflasi Di September, Ini Respons Darmin

Menko Perekonomian Darmin Nasution/Foto: Dok. Kemenko PerekonomianMenko Perekonomian Darmin Nasution/Foto: Dok. Kemenko Perekonomian

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang September terjadi deflasi sebesar 0,27%. Hal ini sesuai hasil pemantauan BPS di 82 kota di seluruh Indonesia.

Menurut Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution kondisi tersebut merupakan hal yang masuk akal terjadi di September.

"Ya biasanya memang bulan-bulan gini September itu biasanya memang inflasi rendah atau deflasi. Tahun kemudian itu juga deflasi," kata Darmin di kantornya, Jakarta, Selasa (1/10/2019).


Deflasi didorong oleh faktor anjloknya harga sejumlah materi pangan pada bulan lalu. Kelompok materi masakan tercatat menyumbangkan deflasi sebesar 1,97%.

Komoditas yang secara umum dikuasai andil kepada deflasi salah satunya ialah cabe merah. Harga cabe merah turun tajam, di mana andilnya kepada deflasi mencapai 0,19%. Kemudian harga bawang merah, andilnya 0,07%, daging ayam ras andilnya 0,05%, cabe rawit 0,03%, dan telur ayam ras andil 0,02%.


Darmin menilai deflasi dilihat dari faktor tersebut bukan lah hal yang buruk. Menurutnya kondisi itu malah sesuatu yang positif. Artinya harga pangan sempat melonjak tinggi sudah mulai turun.

"Jadi ya, artinya anggun alasannya ialah sesungguhnya untuk pangan masih agak tinggi sehingga ini kan deflasinya terutama pangan sehingga ya ini akan menciptakan inflasi kita benar-benar ada di dalam range yang kita perkirakan," tambahnya.

Simak Video "BPS: Indeks Demokrasi Indonesia Naik Dibanding Tahun 2017"
[Gambas:Video 20detik]

Sumber detik.com

Belum ada Komentar untuk "Pangan Sumbang Deflasi Di September, Ini Respons Darmin"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel