Kepala Bnpb Willem Rampangilei: Untuk Apa Status Tragedi Nasional?

Kepala BNPB Willem Rampangilei: Untuk Apa Status Bencana Nasional?Foto: Majalah detik

Jakarta -Meski belum genap sebulan menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangilei cukup fasih menguraikan taktik penanganan tragedi kebakaran hutan dan asap yang sudah berlangsung beberapa pekan ini. Maklum, ketika masih menjabat Deputi I Menko Kesra, dialah yang menyusun "Prosedur Operasi Standar Nasional Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan".

Willem tegas menolak saran aneka macam pihak untuk memutuskan status darurat asap sebagai tragedi nasional. Alasannya, selain sulit memilih jumlah korban menyerupai diatur undang-undang, bergotong-royong pemerintah sudah menjalankan kekuatan penuh untuk mengatasi kebakaran hutan kali ini.

"Ini tidak ditetapkan tragedi nasional, (tapi) pemerintah pusat sudah men-deploy 17 helikopter dan mengerahkan personel TNI. Anggaran juga dari pusat. Jadi, apa bedanya?" kata lelaki kelahiran Surabaya, 9 September 1955, itu.

Ia juga menolak derma yang ditawarkan Singapura lantaran aneka macam kemudahan dan kemampuan yang ditawarkan ternyata sudah dimiliki Indonesia. Hanya saja, lantaran faktor cuaca yang tidak mendukung, upaya untuk mengatasi kabut asap menjadi tidak optimal.

Seperti apa kondisi kebakaran hutan ketika ini dan bagaimana BNPB akan mengatasinya? Simak petikan wawancara majalah detik dengan Willem di kantornya, Selasa, 6 Oktober, sore. Paparan berikut ini juga dipetik dari jumpa pers Willem perihal "Strategi Percepatan Penanganan Operasi Darurat Bencana Asap" yang disampaikan pada pagi harinya.

Sampai hari ini, berapa besar luas tempat yang terbakar?

Sumatera ada 502 titik, Sumatera Selatan sendiri ada 466 titik, terbanyak di Kabupaten OKI (Ogan Komering Ilir), Jambi, Lampung, Sumatera Barat, Bangka Belitung, dan Riau. Di seluruh Kalimantan itu ada 712 titik. Kalimantan Timur terjadi 333 kebakaran di lahan pertanian, kebun masyarakat. Itu sehabis kami teliti di lapangan. Di Kalimantan Selatan ada 104 titik, Kalimantan Tengah 262 titik, terbesar di Kabupaten Pulang Pisau. Kalau dipelajari dari gambaran satelit, kebakaran ini banyak terjadi di perbatasan kabupaten atau provinsi. Diduga, infrastruktur jalan di sana tidak begitu manis sehingga patroli tidak sampai. Kemungkinannya menyerupai itu.

Kalau pemadaman di OKI kok lambat? Apa penyebabnya?

Cepat atau lambat ada parameternya. Pertama, kelatenan dari kebakaran itu sendiri. Memadamkan api di lahan gambut itu perlu teknik dan upaya tertentu. Lalu kita lihat bagaimana kekuatan kita dan kemampuan kita. Parameter-parameter inilah yang menentukan. Untuk situasi di OKI memang cenderung lambat lantaran lahan gambut di sana terlalu dalam. Kaprikornus perlu proses memadamkan. Kalau airnya tidak cukup, akan banyak menjadikan asap. Kita juga akan memindahkan pangkalan pacu untuk helikopter, tidak standby di bandara, tapi ditempatkan di sebelah selatan lokasi kebakaran. Kita di bawah angin. Asap larinya cenderung ke utara. Kaprikornus kita tempatkan helikopter di sebelah selatan sehingga jarak operasinya lebih pendek.

Kebakaran dan tragedi asap sudah terjadi di belasan provinsi. Akan ditetapkan status darurat nasional?

Penetapan tragedi nasional itu ada pasalnya, dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Pasal 7 disebutkan parameternya (adalah) jumlah korban jiwa, kerusakan, area yang terdampak, dan lain sebagainya. Ini harus dibuatkan PP-nya dulu. Sementara, PP-nya belum dibuat. Kalau kini ini mau bicara penetapan status tragedi nasional, kita bicara perihal jumlah korban. Mencari kesepakatannya pun akan susah itu.

Lalu, mari kita lihat, kalau tragedi nasional itu, salah satu cirinya pengerahan sumber daya nasional. Ini tidak ditetapkan tragedi nasional, (tapi) pemerintah pusat sudah men-deploy 17 helikopter dan mengerahkan personel TNI. Anggaran juga dari pusat. Jadi, kalau kini ditetapkan status tragedi nasional, apa bedanya? Toh, kita sudah mengerahkan sumber daya ke sana, baik anggaran, aset, maupun personel.

Ada rencana menambah kekuatan derma dari TNI?

Saya sedang berkoordinasi dengan Panglima Tentara Nasional Indonesia untuk menambah pasukan lantaran terjadi kebakaran baru, baik di tempat yang sudah dipadamkan atau di tempat yang sama sekali belum pernah terbakar. Kami juga akan geser kekuatan untuk water bombing. Kami tambah heli untuk dikonsentrasikan di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. Juga akan menambah helikopter di Kalimantan Timur yang diatur sedemikian rupa sesuai dengan kekuatan dan bahaya yang ada. Efektivitas penggunaan kekuatan TNI?Kita memang memakai cara-cara yang tradisional seperti tidak elok dilihat.

Kendala dan salah satu tantangannya yakni masyarakat masih suka melaksanakan pembakaran dan terjadi kebakaran baru. Kaprikornus lahan yang sudah dipadamkan dibakar lagi, kemudian lahan yang belum terbakar dibakar. Mereka menjadikan momen animo kering yang panjang ini untuk melaksanakan itu lantaran cepat, mudah, efektif, murah, dan tanahnya menjadi subur. Tugas tentara bukan hanya memadamkan, tapi juga melaksanakan pencegahan dengan melaksanakan patroli.Bagaimana dengan hujan buatan?Sampai dengan ahad ini, terutama untuk Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah, awannya tidak cukup untuk disemai. Karena itu, diintensifkan pemadaman melalui darat.

Ada cara lain yang ditempuh untuk memperkuat proses pemadaman?

Isu asap ini kan borderless, jadi asap dari kebakaran gambut ini sudah melampaui batas-batas. Di Riau sudah kita padamkan dan api relatif kecil, tapi asap masih pekat. Ini disebabkan pemadaman di tempat lain masih belum efektif sehingga asap terbawa ke Riau. Memang menjadi salah satu tantangan buat kita. Karakter pemadaman di wilayah gambut itu proses pemadamannya niscaya melahirkan asap. Karena itu, saya membawa 40 ton chemicals (bahan kimia) untuk memperkuat pemadaman. Penjelasan produknya, kalau digunakan, bisa menurunkan temperatur secara drastis dan tidak menjadikan asap. Harganya memang agak mahal, tapi lebih mahal lagi kalau asap tidak ditangani segera. Walaupun dari Kementerian LHK juga sudah memakai chemicals, tapi saya belum mendapatkan laporan bagaimana efektivitasnya.

Terkait keluhan dari tetangga atas lamanya dampak asap yang harus mereka terima?

Wajar kalau negara lain merasa terganggu lantaran asap. Indonesia masyarakatnya lebih terganggu lagi. Tapi Indonesia sudah mengambil tindakan. Empat hari kemudian saya mendapatkan delegasi dari Singapura. Kami jelaskan semua kondisi yang dihadapi, kekuatan yang kita miliki, dan konsep bagaimana kita memadamkan.

Mengapa derma yang mereka tawarkan tidak diterima?

Dari Singapura memperlihatkan pesawatnya untuk penyemaian awan atau menciptakan hujan buatan. Saya katakan, kami punya 4 pesawat yang standby di sana, tapi kondisi cuaca (tidak memungkinkan) lantaran El Nino hingga simpulan November. Bagian selatan ekuator peluang awannya sedikit. Kaprikornus pesawat kita tidak bisa maksimal. Singapura juga memperlihatkan penggunaan IT, menyerupai gambaran satelit, tapi Indonesia juga punya kemampuan IT dalam rangka mendapatkan gambaran secara terang di lapangan. Mereka juga memperlihatkan satu (helikopter) Chinook berkapasitas 4,5 ton. Kita punya 17 helikopter untuk water bombing tapi tidak bisa (terbang) lantaran asap yang pekat. Penambahan helikopter itu tidak menambah kemampuan kita.

Dengan klarifikasi itu, Singapura bisa memahami. Mereka berharap Indonesia bisa segera mengatasi permasalahan ini. Mereka memberikan keberatan harus meliburkan sekolah, banyak event besar harus di-cancel, pribadi tidak pribadi mengganggu bisnis ekonomi mereka. Jadi, kalau ditanya apakah Indonesia sudah mengambil tindakan, sudah dengan maksimal. (Catatan redaksi: Beberapa hari sehabis wawancara dilakukan, pemerintah Indonesia bersedia mendapatkan derma dari negara tetangga).

Bagaimana dengan negara tetangga lainnya?

Kami gres bicara dengan Singapura, dengan Malaysia belum, Australia juga belum. Pemerintah sudah menghitung kerugian kesehatan?Kebakaran kan masih terjadi, jadi belum bisa. Perlu diketahui, assessment kerugian ini ada yang bisa dinilai, ada yang tidak. Yang bisa dinilai menyerupai berapa kali delay pesawat atau bandara tutup. Kalau ketidaknyamanan dan sakit, itu kan tidak bisa dinilai. Kaprikornus situasinya menyerupai itu.Presiden Jokowi menyatakan butuh tiga tahun untuk membereskan duduk kasus asap.

Apa saja langkah yang disiapkan BNPB?

Perintah Presiden kepada saya bukan memberi waktu tiga tahun. Perintahnya yaitu tahun depan dihentikan ada asap lagi. Itu saya dengar sendiri, bukan hanya pada BNPB, tapi pada semua kementerian dan forum terkait yang hadir ketika itu. Ada Menteri KLH, Menko Polhukam, Panglima TNI, Kapolri, Mendagri. Kaprikornus perintahnya jelas. Kalau contohnya terjadi pelanggaran oleh korporasi, tindak tegas secara hukum.

Ada waktu sasaran penyelesaian dari BNPB?

Saya berbicara sesuai fakta menurut scientific based. Cuaca unpredictable. Ini menciptakan saya tidak bisa memberi tanggapan niscaya kapan kebakaran bisa diatasi. Saya akan berusaha sekuat tenaga dan secepat-cepatnya.

Strategi jangka panjang?

Pada ketika kunjungan Presiden ke Kalimantan Tengah dan Selatan, ia menyaksikan sendiri betapa dahsyatnya kebakaran itu dan kompleksnya penanganan. Beliau mengatakan, kalau dihadapkan dalam situasi ini, tidak ada cara lain kecuali membangun blocking canal. Blocking canal itu dimaksudkan untuk rewetting. Jangka panjangnya, Kementerian KLH sudah memanggil semua jago dan akademisi untuk menciptakan masterplannya. Membuat blocking canal itu di seluruh lahan gambut. Sehingga, dalam kondisi lahan selalu dalam keadaan basah, itu akan efektif untuk mencegah kebakaran. Kaprikornus pembangunan ini harus dilakukan dalam satu sistem, contohnya di Sumatera. Kalau di Kalimantan punya sistem sendiri.

Strategi ke depan secara garis besarnya, tentu kita akan ada early warning detection. Ditempatkan pos-pos pengamat, pemberdayaan masyarakat. Begitu mulai ada titik api, pribadi dilakukan pemadaman. Konsep besarnya sedang dibuat. Koordinatornya BNPB?Sudah ditetapkan koordinator nasionalnya yaitu Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Kami melaksanakan kiprah menurut UU Nomor 24 Tahun 2007. Itu sudah dijelaskan secara tegas apa yang harus dilakukan BNPB pada ketika belum bencana, pada ketika bencana, dan sehabis bencana.

Selama ini, bagaimana koordinasi di lapangan?

Bagus. Tidak ada masalah. Koordinator bekerja keras. Dia punya kepemimpinan yang baik. Primary support-nya ya BNPB, TNI, Polri. Kita sudah bekerja baik dan tidak ada masalah. Kalau perlu deployment pasukan tidak perlu surat-menyurat, tinggal telepon Panglima dan dalam 24 jam segera dikirim. Kabut asap ini sudah menjadi duduk kasus kita selama belasan tahun.

Mengapa terus berulang?

Sebelum terjadinya tragedi kebakaran, apa yang seharusnya dilakukan? Mitigasi dan pencegahan. Tetapi, kalau tragedi kebakaran itu tetap terjadi, artinya keduanya tidak efektif. Sehingga, perlu konsep pencegahan yang totally new semoga diketahui. Akar permasalahannya kan dibakar sama orang.Kalau akar duduk kasus sudah diketahui, mengapa sulit dicegah?Itu tanya sama pemerintah yang lalu. Saya gres 20 hari di sini, he-he-he.


BIODATA:

Nama Lengkap: Laksda Tentara Nasional Indonesia Willem RampangileiTempat/Tanggal Lahir: Surabaya, 9 September 1955
Istri: Antharina Patricia Paago

Pendidikan:
•    Akademi Ilmu Pelayaran, Jakarta, 1976-1980
•    Sekolah Perwira Militer Wajib, 1980, (lulus dengan predikat A)
•    Kursus Koordinasi Bantuan Tembakan (Korbantem), 1985
•    Kursus KPPK Buru Ranjau, 1988
•    Pendidikan Lanjutan Perwira, 1990-1991, (lulus terbaik)
•    Kursus Komandan KRI, 1992
•    Sekolah Staf dan Komando AL, 1994-1995, (lulus terbaik)
•    JSSC Seskogab Australia, 1998
•    Pendidikan reguler Lemhanas, 2008, (lulus terbaik)

Riwayat Karier:
•    Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
•    Deputi 1 Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), semenjak 2011
•    Komandan Pangkalan Utama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (Lantamal) VIII Manado dan Kalimantan Timur
•    Kepala Dinas Hidrografi dan Oseanografi Mabes AL

Pengalaman Organisasi:
•    Wakil Ketua Umum PB Persatuan Olahraga Senam Seluruh Indonesia (POSSI)

Penghargaan:
•    Bintang Jalasena Nararya
•    Satya Lencana Seroja
•    Satya Lencana Kesetiaan XXIV Tahun
•    Satya Lencana Dwidya Sistha.

***

Wawancara ini telah dimuat di edisi terbaru Majalah Detik (Edisi 202, 12 Oktober 2015). Edisi ini mengupas tuntas "Muslihat 7 Begal Garam". Juga ikuti artikel lainnya yang tidak kalah menarik, menyerupai rubrik Hukum "Gaby Tenggelam Siapa Salah", Internasional "Strategi Pena dan Senjata ala Taliban", Ekonomi "Saatnya Borong Saham?", Gaya Hidup "Foodie Selebgram Hobi Pamer Kelezatan", rubrik Seni Hiburan dan review Film "The Walk", serta masih banyak artikel menarik lainnya.

Untuk aplikasinya bisa di-download di apps.detik.com dan versi Pdf bisa di-download di www.majalah.detik.com. Gratis, selamat menikmati!!




Sumber detik.com

Belum ada Komentar untuk "Kepala Bnpb Willem Rampangilei: Untuk Apa Status Tragedi Nasional?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel