Double Track Pertanian Di Tengah Angin Kencang Resesi
Sektor pertanian bisa diharapkan bisa menambal kelesuan industri (Foto: Ardian Fanani)Jakarta -
Resesi ditandai dengan penurunan pertumbuhan ekonomi yang disebabkan merosotnya ajakan atas aneka macam komoditi barang dan jasa. Penyebab resesi bermacam-macam, mulai dari membesarnya risiko kredit yang mulai membebani lebih banyak didominasi produsen dan konsumen, maupun melemahnya daya beli akhir adanya guncangan atas penurunan harga komoditas yang mengakibatkan perdagangan tidak lagi seimbang.
Dalam konteks kekinian, resesi global terjadi akhir beberapa faktor yang saling bertabrakan, di antaranya; pertama, terjadinya perang dagang yang menghambat laju pertumbuhan di beberapa negara berkembang, khususnya China yang secara otomatis menghipnotis ajakan atas aneka macam materi baku dari negara berkembang.
Kedua, meningkatnya risiko kredit di negara-negara Asia akhir melesunya ajakan sektor manufaktur, padahal dalam konteks pembiayaan manufaktur selalu mengandalkan kredit. Ketiga, terjadinya indikasi bubble economics di Amerika Serikat yang tergambar dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi bergantung pada pembiayaan utang jangka pendek, di mana suku bunga pola relatif tinggi.
Keempat, kelesuan ekonomi di negara-negara Eropa, terutama akhir tidak terjalinnya titik temu pasca-Brexit. Akibat lanjutan dari kesemuanya yaitu terjadinya penurunan harga komoditas dunia, terutama minyak yang tidak beranjak dari kisaran 50 dolar AS per barel, meski sempat terkerek naik saat terjadi ketegangan-ketegangan terutama di Timur Tengah.
World Bank memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi dunia hanya sanggup diharapkan dari Asia Selatan dan Asia Timur dan Pasifik; keduanya masih memperlihatkan gairah pertumbuhan sampai 6% sehingga rata-rata pertumbuhan dunia bisa bertahan di 3%. Namun, dua daerah ini juga mengalami kontraksi di mana beberapa negara terpengaruh dengan tanda-tanda perang dagang yang menjadikan pertumbuhan ekonomi dunia mengalami pelambatan sampai 2,6% saja.
Pertumbuhan Melambat
Indonesia secara eksklusif mungkin tidak mengalami kontraksi atas perang dagang, tetapi secara tidak eksklusif penurunan ajakan komoditas yang dibarengi tingkat harga yang relatif rendah terhadap komoditas andalan ekspor menjadikan pertumbuhan melambat. Di sisi lain, faktor ajakan domestik mengalami kelesuan yang diakibatkan oleh inflasi pada konsumsi primer yang justru menjadikan tekanan lebih parah kepada lebih banyak didominasi penduduk berpendapatan menengah ke bawah. Hal ini sanggup dilihat dari garis kemiskinan yang tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan inflasi secara umum.
Gejala awal resesi sudah ditunjukkan oleh sektor manufaktur yang pada Semester I-2019 hanya bisa tumbuh 3,7%. Padahal, di Semester I-2019 ada tiga momentum penting yang seharusnya mendongkrak ajakan yaitu pemilu, Hari Raya Idul Fitri, dan siswa masuk sekolah. Tiga momen tersebut ternyata tidak bisa memperlihatkan insentif daya beli secara signifikan, konsumsi pemerintah yang mencapai 6,93%, konsumsi LNPRT yang mencapai 16.09%, sedangkan untuk konsumsi rumah tangga yang tumbuh pesat yaitu kesehatan dan pendidikan mencapai 6.17%.
Jasa komunikasi dan informasi serta jasa perusahaan yang selama ini tumbuh relatif baik juga tampak makin prestisius dengan pertumbuhan masing-masing mencapai 9.33% dan 10.15%, tetapi jasa perdagangan tidak kunjung membaik tetap di kisaran 4,95%. Kondisi ini tampaknya menggambarkan bahwa sektor jasa memang memperlihatkan harapan, tetapi seberapa besar daya tahannya di tengah angin kencang resesi perlu ditelisik mengingat ajakan jasa sangat lentur terhadap kondisi-kondisi eksternal, terutama yang berkait dengan jasa keuangan yang diharapkan menjadi mesin pendorong perekonomian, tetapi justru akan melambat saat situasi sedang berisiko.
Maka, perlu sebuah upaya serius bagi pemerintah untuk mengamankan potensi pendorong pertumbuhan dalam jangka pendek yang masih bisa diharapkan sebagai pengaman di tengah resesi global.
Sektor Pertanian
Sektor yang relatif gampang untuk digenjot yaitu sektor pertanian. Sektor ini setidaknya mempunyai tugas besar dalam beberapa hal. Pertama, sektor pertanian menyangkut 37 juta penduduk atau 30% dari populasi bekerja sehingga memperlihatkan daya tahan ekonomi khususnya pada wilayah pedesaan. Kedua, sektor pertanian akan diharapkan memperkuat pemikiran kredit saat produktivitasnya membaik dan terjadi perputaran komoditas pertanian. Ketiga, sektor ini bisa diharapkan bisa menambal kelesuan industri yang bergantung pada pasokan materi baku impor untuk mendorong shifting industri menengah yang berbahan baku lokal baik untuk konsumsi domestik maupun ekspor.
Persoalannya, apakah sektor ini bisa menghasilkan nilai tambah dengan pengelolaan yang konvensional? Akan sangat sulit mengandalkan sketsa pertanian tradisional yang sangat padat karya dan bergantung pada kondisi alam (cuaca, air, suhu, pengendalian hama). Perlu terobosan besar untuk menjalankan pertanian dalam double track sekaligus, yaitu menggenjot produktivitas melalui konsolidasi pertanian modern dan memperbaiki kesejahteraan petani dengan pemberdayaan.
Track pertama, dipilih dengan menyebarkan komoditas-komoditas yang berorientasi ekspor, di mana komoditas ini mempunyai nilai tambah dan menghasilkan marjin yang cukup signifikan untuk dikembangkan secara masif melalui agroindustri. Selama ini, sektor pertanian kita sangat bergantung pada komoditas perkebunan --sawit, teh, kopi, coklat dan tembakau-- tetapi meninggalkan produk-produk pangan dan hortikultura yang dari sisi harga relatif lebih stabil dan permintaannya tidak lentur terhadap harga, melainkan cenderung terus meningkat secara gradual.
Produksi tumbuhan pangan dan hortikultura masih belum diminati investor dan lebih banyak dikerjakan secara tradisional. Padahal kalau orientasi ekspor yang dikejar, maka produksi sudah barang tentu akan lebih efisien untuk menutup kebutuhan domestik. Ekspor pangan dan hortikultura penting untuk menambal defisit perdagangan pangan, terutama gandum, kedelai, daging, susu, dan lain-lain selain juga menambal defisit ekspor secara keseluruhan.
Dalam pengembangan agroindustri negara perlu menyediakan insentif yang memadai, tetapi tidak harus melalui pemberian konsensi besar-besaran, melainkan sanggup diintegrasikan dengan acara reforma agraria yang memanfaatkan lahan tidur untuk dikelola masyarakat secara kolektif. Apa yang dilakukan FELDA di Malaysia patut dijadikan rujukan.
Track kedua, untuk memperbaiki kesejahteraan petani satu-satunya jalan yang harus ditempuh yaitu dengan mendorong integrated farming, menyatukan kegiatan pertanian untuk saling memenuhi kebutuhannya sendiri. Setidaknya dengan penerapan ini secara kolektif sanggup menurunkan cost sektor pertanian sehingga marjin yang didapatkan meningkat secara bertahap. Pemanfaatan sisa-sisa pertanian untuk kegiatan produktif bisa dilakukan dengan inisiatif kolektif yang difasilitasi pemerintah untuk menghubungkan antarpelaku perjuangan --petani-peternak-petambak-- atau dalam skala middle melibatkan perusahaan-perusahaan di sektor tersebut yang akan resiprokal dalam memenuhi kebutuhannya.
Dalam konteks sinergi sektor pertanian, negara setidaknya perlu menjamin proteksi paten untuk hasil rekayasa genetik baik untuk benih, pengendali hama, penemuan pupuk, dan lain-lain, tetapi secara afirmatif memperlihatkan ruang bagi petani untuk terlibat dalam konservasi pengetahuan lokal. PR negara berikutnya yaitu perbaikan irigasi, konservasi air berbasis hulu-hilir, pengendalian banjir, rekayasa iklim mikro, pengendalian hama dengan rescue team yang berkolaborasi dengan laboratorium sempurna guna baik di sekolah tinggi tinggi maupun industri.
Double track sektor pertanian perlu dikelola semoga tidak saling kontraproduktif sebaliknya harus bisa mempersempit kesenjangannya dengan kolaborasi, di mana petani tradisional sanggup direorganisasi dalam kelompok yang berbasis produksi "bukan peserta pertolongan semata". Di sinilah tugas forum keuangan yang makin inklusif diperlukan, setidaknya untuk memperlihatkan instrumentasi permodalan dan penjaminan asuransi untuk mengelola risiko gagal panen melalui sketsa koperasi.
Koperasi ini pula yang nantinya sanggup dikembangkan untuk menjadi supplier bagi industri olahan pangan. Jika dengan skenario ini,pertanian sanggup tumbuh di atas PDB setidaknya 5-6%, maka akan memperbaiki daya beli secara signifikan dan sekaligus memperlihatkan insentif bagi sektor industri untuk tumbuh lebih baik. Inilah PR aktual Kabinet Kerja Jilid II (Kabinet Indonesia Maju) untuk terus melaju di tengah angin kencang resesi global.
Hafidz Arfandi peneliti ekonomi di Institute Harkat Negeri
Belum ada Komentar untuk "Double Track Pertanian Di Tengah Angin Kencang Resesi"
Posting Komentar